ayobaca.co, Tenggarong – Menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80, suasana patriotik mulai terasa di berbagai penjuru kota, termasuk di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satu yang mencuri perhatian adalah deretan pedagang bendera musiman yang mulai berjejer di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.
Salah satu pedagang yang terlihat sibuk melayani pembeli adalah Indra, warga asal Garut, Jawa Barat. Tahun ini merupakan tahun ketiganya berjualan di Tenggarong. Bersama timnya, Indra menjajakan berbagai jenis bendera dan pernak-pernik kemerdekaan, dari ukuran kecil hingga jumbo, yang bisa digunakan untuk dekorasi rumah, kantor, hingga gedung-gedung pemerintahan.
“Setiap tahun kami selalu di sini, sudah langganan tempatnya. Dulu kami biasa jualan di jalan S. Parman, tapi kan sekarang sedang ada perbaikan jalan, jadinya kami pindah ke sini,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Selasa (30/7/2025).
Indra bercerita bahwa tradisi berdagang bendera sudah berlangsung lama dalam keluarganya.
“Saya pribadi sudah tahun ketiga di sini. Kalau bapak saya malah dari tahun 2006 sudah ikut jualan,” kenangnya.
Lapaknya menawarkan berbagai macam produk kemerdekaan, mulai dari bendera mini, umbul-umbul, hingga dekorasi skala besar. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan jenis barang.
“Kami memang nggak bawa stok terlalu banyak, takutnya nggak habis malah rugi. Jadi secukupnya saja,” jelasnya.
Saat ditanya soal pendapatan selama musim jualan, Indra mengaku hasilnya cukup menjanjikan.
“Total-total bisa di atas Rp15 juta lah. Soalnya di Tenggarong ini banyak yang butuh barang siap seperti ini. Kalau beli online orang sini kurang berminat, karena harus menunggu lama dan kualitas juga belum bisa dipastikan, jadi Alhamdulillah peminatnya banyak. Pembelinya juga beragam, dari warga biasa sampai instansi pemerintahan,” katanya.
Musim jualan biasanya dimulai pertengahan Juli dan berlangsung hingga hari peringatan 17 Agustus.
“Kita mulai jualan sekitar tanggal 17–18 Juli, terus sampai sekitar 17 Agustus. Ada yang belinya dari awal, tapi ada juga yang nunggu sampai mendekati hari H,” ujarnya.
Meski berjualan di perantauan, Indra tetap menjaga kualitas produknya. Semua barang yang dijual merupakan hasil produksi dari kampung halamannya.
“Pusat produksinya di Garut, tempat produksi bendera. Kalau tanya orang se-Kalimantan, mereka tahunya dari Garut,” pungkasnya.
Setelah momen 17-an usai, Indra dan kawan-kawan berencana untuk kembali pulang.
“Sudah sebulan nggak ketemu keluarga, udah kangen juga kang sama mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Penulis : Rahmiatul Daniansyah
Editor : Lutfi
